Menjelang sakaratul maut
Aku membaca lirih baris sajak Chairil Anwar
“…aku ingin hidup seribu tahun lagi”
“Singkat amat!” pekik jiwa memprotes
“Jatahku untuk kemanusiaanmu abadi.
Kalaupun ada kematian yang mati adalah jazad”
Sungguh aku penasaran dengan pernyataannya
Kucari jiwa dalam hati yang porak poranda
Kosong dan sepi, jiwa tak ada disana
Tampaknya jiwa tengah bertandang dalam pikiran
Kuburu jiwa dalam pikiran ternyata telah pergi
Dan kutemukan tengah berenang dalam aliran darah
Aku bertanya, “bukankah darah bagian dari jazad?
Berarti keabadianmu berenang dalam kesementaraan”
Jiwa tertawa terkekeh-kekeh
“Apa salahnya keabadian menikmati kesementaraan?
Yang justru sering terjadi
Kesementaraan menunggangi keabadian
Menjadikan yang sementara seakan-akan abadi
Adapun keabadian dianggab dongeng mengerikan”
Usai bicara begitu, jiwa meloncat tinggi
Dan bergelayutan pada jalinan otot jantungku
Yang telah usang, kerowak dan berbau busuk
“Kenapa engkau masih bermain-main dalam jazad ini?
Tinggalkanlah! Malaikat pencabut nyawa telah menunggu”
Jiwa tertawa lebar sampai tubuhku terguncang-guncang
Aku batuk-batuk, segumpal darah keluar dari mulutku
Masih sempat kudengar suara isak istri dan anak-anakku
Diantara geremam Surah Yaasin dibacakan
Oleh saudara-saudaraku dan Para Tetangga
Mereka mengerumuni jazadku menunggu saat ajal menjemput
“Enak saja!” jawab jiwa setelah meredakan tawa
“Kematian jazad itu indah dan menyenangkan
Ketika kehilangan jazad engkau tak lagi punya beban
Tak harus makan, minum, berpakaian dan buang hajat”
Aku tak mengerti kearah mana makna ucapan jiwa
“Jadi engkau menghendaki aku tak menikmati keindahan?
Engkau masih ingin melihat aku menderita dalam kehidupan?”
Jiwa menyeringai penuh ejekan menanggapi pertanyaanku
“Engkau lupa, musuhku yang terbesar adalah jazad!
Jazad puluhan tahun mengurungku dalam kehinaan.
Kehendakku tak pernah dia perdulikan
Seakan-akan hanya jazad semata yang hidup.
Aku dengan semena-mena dilupakan
Selalu saja didera dalam pesta pora kesementaraan
Aku tidak terima dengan perlakuan jazad padaku
Dan sekaranglah saat yang paling tepat untuk balas dendam
Akan kupermainkan jazad dalam keabadianku!”
Tampaknya jazad ini akan lebih lama lagi menderita
Organ-organ tubuhnya sudah hancur dan bernanah
Jantung berdetak lambat, jaringan urat syarafnya lumpuh
Aku dalam kesakitan yang tak terkira perihnya
Selama ini aku memang jarang mengobrol dengan jiwa
Kukira jiwa tak punya mulut, gaib dan tak terlihat
Baru kusadari keberadaanya menjelang kematianku
“Tinggalkan jazadku…!” aku meminta dengan sangat
“Paling tidak, kasihanilah aku yang pernah terlanjur hidup
Puluhan tahun didera dan diperbudak dunia
Napsuku mengelabui pikiran, bahkan menipu hati
Agar bisa mengejar pencapaian-pencapaian fatamorgana.
Wahai jiwa yang terhormat,
Kalau engkau merasa terhina oleh ulah jazad ini
Bukankah itu karena salahmu juga ?
Tidak ada alasan bagimu untuk balas dendam
Karena kelak engkau yang harus bertanggungjawab
Terhadap segala perbuatan jazad.
Kalau pedangmu tumpul dan berkarat
Jangan salahkan sarungnya yang compang-camping!”
Kali ini jiwa tampak jelas sangat ketakutan
Bayangan tangan raksasa menyambarnya tanpa ampun
Tampaknya malaikat pencabut nyawa tak sabar menunggu
Ditariknya jiwa dengan paksa meninggalkan raga
Adapun aku ikut melayang melihat jazadku tak bernyawa
Istri dan anak-anakku meraungkan tangis pilu
Terasa ringan tanpa beban, terbang di ketinggian
Aku adalah imanku
Dan jiwa hanya sekedar serpihan Sang Maha Jiwa
Yang hendak mbalelo terhadap kepasrahanku
Kp. Lumbung, Bogor, 19.02.11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar