BERONTAK TANPA RENCANA
Sungguh aku tak mengenal anak-anak itu
Aku jadi sangsi mereka dari benih kejantananku
Yang membuahi indung telur istriku
Menjadikannya embrio mengisi rahim
Hamil dalam harapan penuh cinta
Lahir dalam satu aliran darah
Bahkan wajah mereka pun ada yang mirip denganku
Kurelakan buah kesukaanku
Yang menggelantung di dada istriku
Jadi air susunya
Bertahun kemudian kuajari berkata-kata
Kutimang dan kudidik dengan penuh cinta
Begitu menginjak usia remaja
Mereka bicara dan berpikir bagai mahluk luar angkasa
Penampilan mereka penuh logam
Tingkah laku dan selera mereka tak lagi kupahami
Mungkinkah itu dulu pernah kulakukan pada orangtuaku?
Jangan bilang aku sudah tua dan ketinggalan jaman
Aku merasa selalu menciptakan arus
Dan bukan malah terombang-ambing oleh arus
Aku punya kepribadian untuk berkata “Tidak!”
Bukan melulu mengangguk seperti daun tertiup angin
Aku adalah kobaran api yang menciptakan trend abad ini
Jauh dari pikiranku, merelakan diri terbakar api lain
Dan anak-anakku itu… sungguh sangat menyedihkan!
Cita rasa mereka mati, kebanggaan mereka hancur
Percaya diri mereka lari dan sembunyi entah kemana…
Mereka anak-anak yang berguru pada peradaban maju
Jiwa mereka memberontak namun tanpa kejantanan
Pikiran mereka dipenuhi keinginan dan tuntutan
Namun tanpa kecerdasan
Hati mereka bergolak membakar setiap bangunan lama
Namun tanpa perencanaan
Kp. Lumbung, Bogor, 1.03.11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar