Bertanya aku pada Tuhan dalam doa:
“Ya Tuhan, kenapa cintaMu pada manusia harus berbeda?
yang jahat selalu beruntung, yang jujur selalu ketiban sial”
Angin berdesir lembut menguakkan daun jendela
Suara hati kecilku tergetar memberi jawaban;
“Keberuntungan seharusnya menjauhkanmu dari kejahatan
Dan Kesialan seharusnya mengingatkanmu pada kejujuran
Karena keberuntungan penjahat adalah sejujurnya kesialan”
Aku kembali bertanya dalam doa;
“Ya Tuhan, kenapa Engkau seakan-akan tidak adil pada kami?
Yang pelit kaya raya, yang dermawan jatuh terpuruk miskin papa”
Daun kering pohon waru jatuh menggeletak di ambang jendela
Hati kecilku berbisik lirih memberikan jawaban;
“Kekayaan seharusnya menjauhkanmu dari kebakilan
Dan keterpurukan seharusnya mengingatkanmu pada kedermawanan
Karena kebakilan hartawan adalah keterpurukan yang nyata”
Aku masih juga mengadu pada Tuhan dengan pertanyaan;
“Ya Tuhan, rakyat dan pemimpin negeriku taat beragama
Namun kenapa cobaan tak henti datang silih berganti?”
Tiba-tiba terdengar suara petir menyambar keras sekali
Aku terlonjak kaget dibuatnya, hatiku terasa diguncang;
“Ketaatan palsu, rakyat dan pemimpin negerimu tanpa cinta
Mereka mengejar kenikmatan dunia dan akherat sekaligus
Mereka tidak pernah mencintaiKu, tapi selalu mengejar surgaKu
Mereka balas kebesaran cintaKu dengan pamrih dan kebencian
Kekayaan alam mereka jual, aturan hidup mereka gadaikan
Wahai, adakah negeri tanpa rasa malu seperti negerimu ?”
Aku terdiam, doaku tak lagi bisa bersuara
Aku takut hati kecilku tempat Tuhan bertahta
Akan ditinggalkanNya
Kutoarjo
22.01.10
Agung Waskito
Tidak ada komentar:
Posting Komentar