Agung Waskito Poems
Rabu, 30 Maret 2011
HARGA DIRI
Katakan bahwa sepi ini lebih baik daripada mati
Ada satu pertanyaan yang tak juga bisa terjawab
Apakah hidup harus dicintai dan mati dibenci?
Lalu bolehkah aku mencintai diri sendiri
Dengan selalu menutupi segala luka menganga?
Aku ingin membungkam sendiri mulut busuk ini
Membunuh pikiran menghapus segala yang kutahu
Agar aku bisa tenang hidup dalam kebodohan
Tetapi kenapa hati ini menolak dan menangis pilu?
Tangisan yang melahirkan harga diri berlebihan
Senantiasa menyiksaku dalam menapaki perjalanan
Katakan bahwa rasa malu ini lebih baik daripada sepi
Aku selalu bingung untuk menutupi jazad dan jiwa
Selain dengan pakaian dan keyakinan
Kutumpuk berbagai hijab dan pengkhianatan
Dalam berbagai ruang pikiran dan hati koyak moyak
Kadang -kadang ingin sekali kubuka semua aib
Namun membayangkan saja aku seperti telanjang bulat
Kemudian setiap orang mulai menilai ketelanjanganku
Seakan-akan mereka paling suci dan aku memalukan
Katakan bahwa setan ini lebih baik daripada harga diri
Ada tembok yang harus kubangun agar aku tetap manusia
Seandainya Tuhan kehilangan cinta pada kemanusiaan
Niscya aku jadi mahluk jahanam di muka bumi ini
15.03.11
KEAJAIBAN ANGKA 9
Didalam angka 9 aku menemukan keajaiban
Hasil perkalian 9 dijumlah hasilnya juga 9
3 x 9 sama dengan 27, 2 + 7 sama dengan 9
9 x 9 sama dengan 81, dijumlah juga 9
Kenapa hitungan harus sampai angka 10 ?
Karena keajaiban angka 9 harus dilengkapi
Pada cinta Allah tuhan yang satu
07.03.11
Hasil perkalian 9 dijumlah hasilnya juga 9
3 x 9 sama dengan 27, 2 + 7 sama dengan 9
9 x 9 sama dengan 81, dijumlah juga 9
Kenapa hitungan harus sampai angka 10 ?
Karena keajaiban angka 9 harus dilengkapi
Pada cinta Allah tuhan yang satu
07.03.11
IBLIS MENYARU MALAIKAT
“Kami butuh makan, bukan koalisi
Peduli amat dengan reshufle kabinet
Atau bermacam diskusi kaum bangsat
Dan perdebatan memuakkan!”
Teriak istriku marah di depan layar TV
Aku mencoba meredakan kemarahannya
“Ganti chanel dong, cari acara lain!”
Ujarku menyarankan
Kembali istriku mencak-mencak
“Apalagi yang bisa ditonton ?
Sinetron dipenuhi maling karya asing
Talk show sarat rekayasa dan tipuan murahan.
Infotainmen hanya perdagangan aib kaum artis.
Paparazzi merasa wartawan yang harus dihormati
Iklan-iklan sembunyi dalam pakaian komedi
Aku muak oleh berbagai tontonan sampah ini!”
Aku mulai jengkel dengan keluhan istriku
“Kalau begitu, jual atau buang saja TV itu!”
Sepasang mata istriku membelalak memelototiku
“Enak saja! Lalu hiburan kita apa, haahh!?”
Bentak istriku dengan suara lantang
Aku sampai pada kesimpulan
Pesawat TV adalah perujudan dari iblis
Yang menyaru jadi malaikat
07.03.11
Peduli amat dengan reshufle kabinet
Atau bermacam diskusi kaum bangsat
Dan perdebatan memuakkan!”
Teriak istriku marah di depan layar TV
Aku mencoba meredakan kemarahannya
“Ganti chanel dong, cari acara lain!”
Ujarku menyarankan
Kembali istriku mencak-mencak
“Apalagi yang bisa ditonton ?
Sinetron dipenuhi maling karya asing
Talk show sarat rekayasa dan tipuan murahan.
Infotainmen hanya perdagangan aib kaum artis.
Paparazzi merasa wartawan yang harus dihormati
Iklan-iklan sembunyi dalam pakaian komedi
Aku muak oleh berbagai tontonan sampah ini!”
Aku mulai jengkel dengan keluhan istriku
“Kalau begitu, jual atau buang saja TV itu!”
Sepasang mata istriku membelalak memelototiku
“Enak saja! Lalu hiburan kita apa, haahh!?”
Bentak istriku dengan suara lantang
Aku sampai pada kesimpulan
Pesawat TV adalah perujudan dari iblis
Yang menyaru jadi malaikat
07.03.11
BERONTAK TANPA RENCANA
BERONTAK TANPA RENCANA
Sungguh aku tak mengenal anak-anak itu
Aku jadi sangsi mereka dari benih kejantananku
Yang membuahi indung telur istriku
Menjadikannya embrio mengisi rahim
Hamil dalam harapan penuh cinta
Lahir dalam satu aliran darah
Bahkan wajah mereka pun ada yang mirip denganku
Kurelakan buah kesukaanku
Yang menggelantung di dada istriku
Jadi air susunya
Bertahun kemudian kuajari berkata-kata
Kutimang dan kudidik dengan penuh cinta
Begitu menginjak usia remaja
Mereka bicara dan berpikir bagai mahluk luar angkasa
Penampilan mereka penuh logam
Tingkah laku dan selera mereka tak lagi kupahami
Mungkinkah itu dulu pernah kulakukan pada orangtuaku?
Jangan bilang aku sudah tua dan ketinggalan jaman
Aku merasa selalu menciptakan arus
Dan bukan malah terombang-ambing oleh arus
Aku punya kepribadian untuk berkata “Tidak!”
Bukan melulu mengangguk seperti daun tertiup angin
Aku adalah kobaran api yang menciptakan trend abad ini
Jauh dari pikiranku, merelakan diri terbakar api lain
Dan anak-anakku itu… sungguh sangat menyedihkan!
Cita rasa mereka mati, kebanggaan mereka hancur
Percaya diri mereka lari dan sembunyi entah kemana…
Mereka anak-anak yang berguru pada peradaban maju
Jiwa mereka memberontak namun tanpa kejantanan
Pikiran mereka dipenuhi keinginan dan tuntutan
Namun tanpa kecerdasan
Hati mereka bergolak membakar setiap bangunan lama
Namun tanpa perencanaan
Kp. Lumbung, Bogor, 1.03.11
Sungguh aku tak mengenal anak-anak itu
Aku jadi sangsi mereka dari benih kejantananku
Yang membuahi indung telur istriku
Menjadikannya embrio mengisi rahim
Hamil dalam harapan penuh cinta
Lahir dalam satu aliran darah
Bahkan wajah mereka pun ada yang mirip denganku
Kurelakan buah kesukaanku
Yang menggelantung di dada istriku
Jadi air susunya
Bertahun kemudian kuajari berkata-kata
Kutimang dan kudidik dengan penuh cinta
Begitu menginjak usia remaja
Mereka bicara dan berpikir bagai mahluk luar angkasa
Penampilan mereka penuh logam
Tingkah laku dan selera mereka tak lagi kupahami
Mungkinkah itu dulu pernah kulakukan pada orangtuaku?
Jangan bilang aku sudah tua dan ketinggalan jaman
Aku merasa selalu menciptakan arus
Dan bukan malah terombang-ambing oleh arus
Aku punya kepribadian untuk berkata “Tidak!”
Bukan melulu mengangguk seperti daun tertiup angin
Aku adalah kobaran api yang menciptakan trend abad ini
Jauh dari pikiranku, merelakan diri terbakar api lain
Dan anak-anakku itu… sungguh sangat menyedihkan!
Cita rasa mereka mati, kebanggaan mereka hancur
Percaya diri mereka lari dan sembunyi entah kemana…
Mereka anak-anak yang berguru pada peradaban maju
Jiwa mereka memberontak namun tanpa kejantanan
Pikiran mereka dipenuhi keinginan dan tuntutan
Namun tanpa kecerdasan
Hati mereka bergolak membakar setiap bangunan lama
Namun tanpa perencanaan
Kp. Lumbung, Bogor, 1.03.11
MENJELANG SAKARATUL MAUT
Menjelang sakaratul maut
Aku membaca lirih baris sajak Chairil Anwar
“…aku ingin hidup seribu tahun lagi”
“Singkat amat!” pekik jiwa memprotes
“Jatahku untuk kemanusiaanmu abadi.
Kalaupun ada kematian yang mati adalah jazad”
Sungguh aku penasaran dengan pernyataannya
Kucari jiwa dalam hati yang porak poranda
Kosong dan sepi, jiwa tak ada disana
Tampaknya jiwa tengah bertandang dalam pikiran
Kuburu jiwa dalam pikiran ternyata telah pergi
Dan kutemukan tengah berenang dalam aliran darah
Aku bertanya, “bukankah darah bagian dari jazad?
Berarti keabadianmu berenang dalam kesementaraan”
Jiwa tertawa terkekeh-kekeh
“Apa salahnya keabadian menikmati kesementaraan?
Yang justru sering terjadi
Kesementaraan menunggangi keabadian
Menjadikan yang sementara seakan-akan abadi
Adapun keabadian dianggab dongeng mengerikan”
Usai bicara begitu, jiwa meloncat tinggi
Dan bergelayutan pada jalinan otot jantungku
Yang telah usang, kerowak dan berbau busuk
“Kenapa engkau masih bermain-main dalam jazad ini?
Tinggalkanlah! Malaikat pencabut nyawa telah menunggu”
Jiwa tertawa lebar sampai tubuhku terguncang-guncang
Aku batuk-batuk, segumpal darah keluar dari mulutku
Masih sempat kudengar suara isak istri dan anak-anakku
Diantara geremam Surah Yaasin dibacakan
Oleh saudara-saudaraku dan Para Tetangga
Mereka mengerumuni jazadku menunggu saat ajal menjemput
“Enak saja!” jawab jiwa setelah meredakan tawa
“Kematian jazad itu indah dan menyenangkan
Ketika kehilangan jazad engkau tak lagi punya beban
Tak harus makan, minum, berpakaian dan buang hajat”
Aku tak mengerti kearah mana makna ucapan jiwa
“Jadi engkau menghendaki aku tak menikmati keindahan?
Engkau masih ingin melihat aku menderita dalam kehidupan?”
Jiwa menyeringai penuh ejekan menanggapi pertanyaanku
“Engkau lupa, musuhku yang terbesar adalah jazad!
Jazad puluhan tahun mengurungku dalam kehinaan.
Kehendakku tak pernah dia perdulikan
Seakan-akan hanya jazad semata yang hidup.
Aku dengan semena-mena dilupakan
Selalu saja didera dalam pesta pora kesementaraan
Aku tidak terima dengan perlakuan jazad padaku
Dan sekaranglah saat yang paling tepat untuk balas dendam
Akan kupermainkan jazad dalam keabadianku!”
Tampaknya jazad ini akan lebih lama lagi menderita
Organ-organ tubuhnya sudah hancur dan bernanah
Jantung berdetak lambat, jaringan urat syarafnya lumpuh
Aku dalam kesakitan yang tak terkira perihnya
Selama ini aku memang jarang mengobrol dengan jiwa
Kukira jiwa tak punya mulut, gaib dan tak terlihat
Baru kusadari keberadaanya menjelang kematianku
“Tinggalkan jazadku…!” aku meminta dengan sangat
“Paling tidak, kasihanilah aku yang pernah terlanjur hidup
Puluhan tahun didera dan diperbudak dunia
Napsuku mengelabui pikiran, bahkan menipu hati
Agar bisa mengejar pencapaian-pencapaian fatamorgana.
Wahai jiwa yang terhormat,
Kalau engkau merasa terhina oleh ulah jazad ini
Bukankah itu karena salahmu juga ?
Tidak ada alasan bagimu untuk balas dendam
Karena kelak engkau yang harus bertanggungjawab
Terhadap segala perbuatan jazad.
Kalau pedangmu tumpul dan berkarat
Jangan salahkan sarungnya yang compang-camping!”
Kali ini jiwa tampak jelas sangat ketakutan
Bayangan tangan raksasa menyambarnya tanpa ampun
Tampaknya malaikat pencabut nyawa tak sabar menunggu
Ditariknya jiwa dengan paksa meninggalkan raga
Adapun aku ikut melayang melihat jazadku tak bernyawa
Istri dan anak-anakku meraungkan tangis pilu
Terasa ringan tanpa beban, terbang di ketinggian
Aku adalah imanku
Dan jiwa hanya sekedar serpihan Sang Maha Jiwa
Yang hendak mbalelo terhadap kepasrahanku
Kp. Lumbung, Bogor, 19.02.11
Aku membaca lirih baris sajak Chairil Anwar
“…aku ingin hidup seribu tahun lagi”
“Singkat amat!” pekik jiwa memprotes
“Jatahku untuk kemanusiaanmu abadi.
Kalaupun ada kematian yang mati adalah jazad”
Sungguh aku penasaran dengan pernyataannya
Kucari jiwa dalam hati yang porak poranda
Kosong dan sepi, jiwa tak ada disana
Tampaknya jiwa tengah bertandang dalam pikiran
Kuburu jiwa dalam pikiran ternyata telah pergi
Dan kutemukan tengah berenang dalam aliran darah
Aku bertanya, “bukankah darah bagian dari jazad?
Berarti keabadianmu berenang dalam kesementaraan”
Jiwa tertawa terkekeh-kekeh
“Apa salahnya keabadian menikmati kesementaraan?
Yang justru sering terjadi
Kesementaraan menunggangi keabadian
Menjadikan yang sementara seakan-akan abadi
Adapun keabadian dianggab dongeng mengerikan”
Usai bicara begitu, jiwa meloncat tinggi
Dan bergelayutan pada jalinan otot jantungku
Yang telah usang, kerowak dan berbau busuk
“Kenapa engkau masih bermain-main dalam jazad ini?
Tinggalkanlah! Malaikat pencabut nyawa telah menunggu”
Jiwa tertawa lebar sampai tubuhku terguncang-guncang
Aku batuk-batuk, segumpal darah keluar dari mulutku
Masih sempat kudengar suara isak istri dan anak-anakku
Diantara geremam Surah Yaasin dibacakan
Oleh saudara-saudaraku dan Para Tetangga
Mereka mengerumuni jazadku menunggu saat ajal menjemput
“Enak saja!” jawab jiwa setelah meredakan tawa
“Kematian jazad itu indah dan menyenangkan
Ketika kehilangan jazad engkau tak lagi punya beban
Tak harus makan, minum, berpakaian dan buang hajat”
Aku tak mengerti kearah mana makna ucapan jiwa
“Jadi engkau menghendaki aku tak menikmati keindahan?
Engkau masih ingin melihat aku menderita dalam kehidupan?”
Jiwa menyeringai penuh ejekan menanggapi pertanyaanku
“Engkau lupa, musuhku yang terbesar adalah jazad!
Jazad puluhan tahun mengurungku dalam kehinaan.
Kehendakku tak pernah dia perdulikan
Seakan-akan hanya jazad semata yang hidup.
Aku dengan semena-mena dilupakan
Selalu saja didera dalam pesta pora kesementaraan
Aku tidak terima dengan perlakuan jazad padaku
Dan sekaranglah saat yang paling tepat untuk balas dendam
Akan kupermainkan jazad dalam keabadianku!”
Tampaknya jazad ini akan lebih lama lagi menderita
Organ-organ tubuhnya sudah hancur dan bernanah
Jantung berdetak lambat, jaringan urat syarafnya lumpuh
Aku dalam kesakitan yang tak terkira perihnya
Selama ini aku memang jarang mengobrol dengan jiwa
Kukira jiwa tak punya mulut, gaib dan tak terlihat
Baru kusadari keberadaanya menjelang kematianku
“Tinggalkan jazadku…!” aku meminta dengan sangat
“Paling tidak, kasihanilah aku yang pernah terlanjur hidup
Puluhan tahun didera dan diperbudak dunia
Napsuku mengelabui pikiran, bahkan menipu hati
Agar bisa mengejar pencapaian-pencapaian fatamorgana.
Wahai jiwa yang terhormat,
Kalau engkau merasa terhina oleh ulah jazad ini
Bukankah itu karena salahmu juga ?
Tidak ada alasan bagimu untuk balas dendam
Karena kelak engkau yang harus bertanggungjawab
Terhadap segala perbuatan jazad.
Kalau pedangmu tumpul dan berkarat
Jangan salahkan sarungnya yang compang-camping!”
Kali ini jiwa tampak jelas sangat ketakutan
Bayangan tangan raksasa menyambarnya tanpa ampun
Tampaknya malaikat pencabut nyawa tak sabar menunggu
Ditariknya jiwa dengan paksa meninggalkan raga
Adapun aku ikut melayang melihat jazadku tak bernyawa
Istri dan anak-anakku meraungkan tangis pilu
Terasa ringan tanpa beban, terbang di ketinggian
Aku adalah imanku
Dan jiwa hanya sekedar serpihan Sang Maha Jiwa
Yang hendak mbalelo terhadap kepasrahanku
Kp. Lumbung, Bogor, 19.02.11
MELIHATKU DALAM TIDUR
Aku ingin melihat diri sendiri dalam tidur
Apakah dalam tidurku aku mendengkur keras?
Apakah dua gigiku saling beradu dan aku mengigau?
Pastilah dalam tidurku aku dijaga malaikat-malaikat
Tetapi mungkin juga aku malah dikerumuni jin-jin jahat
Melihatku dalam tidur aku ingin mecermati kejujuran
Karena ketika jaga aku adalah pembohong besar
Berusaha jujur dalam kebohongan
Berusaha bohong dalam kejujuran
Dunia impian dan kenyataan campur aduk
Melengkapi penderitaan
Istriku pernah bilang, aku tidur sambil tersenyum
Wajahku polos tanpa dosa seperti bayi baru dilahirkan
“Alhamdulillah…!!” seruku keras penuh suka cita
Dalam tidurku bisa kututupi aibku dengan kepolosan
Wajah tanpa dosa yang kudambakan terpancar menutupi kepalsuan
Padahal hati dan pikiranku setiap saat memikirkan kebusukan
Anakku bilang, aku tidur mendengkur keras sekali
Aku marah dan mengatakan mereka bohong dan mengada-ada
Padahal aku dihadapkan pada pengakuan apa adanya
Selalu saja aku mengenakan pakaian penutup kepalsuan
Demi wibawa kemanusiaan, kebohongan istriku lebih kusukai
Daripada kejujuran anakku dalam melihat kenyataan
Setiap tidur aku selalu cemas, panik dan ketakutan
Rasanya ingin tenggelam dalam bumi membayangkan aibku terbuka
Aku ingin menjahit mulutku sendiri agar tidak mengigau
Lebih-lebih mendengkur keras seperti binatang rakus
Sungguh mengerikan seandainya mimpiku bisa muncul
Disaksikan dengan penuh kebencian oleh istriku
Karena dalam mimpiku ada begitu banyak wanita cantik
Semua wanita itu siap memasrahkan jiwa raganya padaku
Mungkin kebanggaan anakku padaku akan langsung hancur
Seandainya mimpiku bisa mereka lihat dengan nyata
Karena aku sering mimpi terbang sambil telanjang bulat
Memaki-maki setiap orang menganggab diri paling pintar
Paling perkasa, paling suci dan paling benar
Aku ingin membuat kesepakatan dengan mimpi-mimpiku
Agar tetap berkenan menjadi rahasia pribadi
Aku ingin bekerjasama dengan segala macam igauanku
Agar dia hanya mengeluarkan suara-suara cinta dan kebaikan
Aku ingin merayu suara dengkurku agar mau menahan diri
Kalaupun harus terdengar hendaknya lirih dan lembut
Setelah sekian lama menunggu akhirnya kami bisa bertemu
Kuungkapkan keinginanku pada mimpi, igauan dan dengkuran
Mereka menolak keras keinginanku dalam menjaga pencitraan
Mereka mengaku hanya sekedar menjalankan tugas dan kewajiban
Kecuali Tuhan memberikan rekomendasi khusus
Karena menurut mereka; takdir hidup, mimpi, igauan dan dengkuran
Sudah digariskan jauh waktu sebelum aku dilahirkan
Kp. Lumbung, Bogor, 90211
Agung Waskito
Apakah dalam tidurku aku mendengkur keras?
Apakah dua gigiku saling beradu dan aku mengigau?
Pastilah dalam tidurku aku dijaga malaikat-malaikat
Tetapi mungkin juga aku malah dikerumuni jin-jin jahat
Melihatku dalam tidur aku ingin mecermati kejujuran
Karena ketika jaga aku adalah pembohong besar
Berusaha jujur dalam kebohongan
Berusaha bohong dalam kejujuran
Dunia impian dan kenyataan campur aduk
Melengkapi penderitaan
Istriku pernah bilang, aku tidur sambil tersenyum
Wajahku polos tanpa dosa seperti bayi baru dilahirkan
“Alhamdulillah…!!” seruku keras penuh suka cita
Dalam tidurku bisa kututupi aibku dengan kepolosan
Wajah tanpa dosa yang kudambakan terpancar menutupi kepalsuan
Padahal hati dan pikiranku setiap saat memikirkan kebusukan
Anakku bilang, aku tidur mendengkur keras sekali
Aku marah dan mengatakan mereka bohong dan mengada-ada
Padahal aku dihadapkan pada pengakuan apa adanya
Selalu saja aku mengenakan pakaian penutup kepalsuan
Demi wibawa kemanusiaan, kebohongan istriku lebih kusukai
Daripada kejujuran anakku dalam melihat kenyataan
Setiap tidur aku selalu cemas, panik dan ketakutan
Rasanya ingin tenggelam dalam bumi membayangkan aibku terbuka
Aku ingin menjahit mulutku sendiri agar tidak mengigau
Lebih-lebih mendengkur keras seperti binatang rakus
Sungguh mengerikan seandainya mimpiku bisa muncul
Disaksikan dengan penuh kebencian oleh istriku
Karena dalam mimpiku ada begitu banyak wanita cantik
Semua wanita itu siap memasrahkan jiwa raganya padaku
Mungkin kebanggaan anakku padaku akan langsung hancur
Seandainya mimpiku bisa mereka lihat dengan nyata
Karena aku sering mimpi terbang sambil telanjang bulat
Memaki-maki setiap orang menganggab diri paling pintar
Paling perkasa, paling suci dan paling benar
Aku ingin membuat kesepakatan dengan mimpi-mimpiku
Agar tetap berkenan menjadi rahasia pribadi
Aku ingin bekerjasama dengan segala macam igauanku
Agar dia hanya mengeluarkan suara-suara cinta dan kebaikan
Aku ingin merayu suara dengkurku agar mau menahan diri
Kalaupun harus terdengar hendaknya lirih dan lembut
Setelah sekian lama menunggu akhirnya kami bisa bertemu
Kuungkapkan keinginanku pada mimpi, igauan dan dengkuran
Mereka menolak keras keinginanku dalam menjaga pencitraan
Mereka mengaku hanya sekedar menjalankan tugas dan kewajiban
Kecuali Tuhan memberikan rekomendasi khusus
Karena menurut mereka; takdir hidup, mimpi, igauan dan dengkuran
Sudah digariskan jauh waktu sebelum aku dilahirkan
Kp. Lumbung, Bogor, 90211
Agung Waskito
MANUSIA BODOH
Apa bedanya manusia dengan binatang?
Manusia punya akal, binatang hanya mengandalkan naluri
Apa bedanya kesalahan dengan kebenaran?
Untuk manusia yang pendek akal akan sulit menelisik
Karena kesalahan bisa disulap menjadi kebenaran
Dan kebenaran direkayasa jadi kesalahan
Lalu apa bedanya binatang dengan manusia bodoh?
Manusia bodoh tetap mengenakan pakaian penutup pikiran
Sedangkan binatang telanjang bulat apa adanya
Ketika kebohongan disebarkan ke segala penjuru
Sambil berurai airmata menegaskan ketidakberdayaan semu
Manusia-manusia bodoh pada terharu dan ikut menangis pilu
Mereka sepenuhnya merasa berpihak pada kebenaran
Serentak mereka menghujat dan meledakkan kebencian
Kebodohan bagai kobaran api membakar ludas isi otaknya
Akhirnya Iblis melenggang masuk pada bara emosi berlebihan
Mereka lupa kebenaran pada dasarnya sunyi, dingin dan sendiri
Sedangkan kesalahan terukur
Dari keberpihakkan manusia pada subyektifitas
Cinta adalah pemahaman
Jangan katakan cinta kalau kamu manusia bodoh
Cinta adalah air menyejukkan
Jangan bilang pecinta kalau makananmu api
Cinta adalah taqwa
Jangan sebut asma Tuhan kalau hanya paham kebencian
Manusia disebut bodoh ketika menjadikan dirinya batu
Percaya pada kebohongan dan memberhalakannya
Berhala yang disembah dan diyakini kebenarannya
Manusia pintar mampu menjadikannya sebagai udara
Terus mencari dan mengisi kebenaran
Pada setiap ruang dan lubang, pada tanjakan dan turunan
Udara yang bisa menghembuskan kesejukan dan kedamaian
Udara yang tidak menyakitkan
Tak bosan-bosannya menyembuhkan dan menghidupkan
Udara yang oleh Tuhan langsung diturunkan dari langit
Sungguh sial yang membatukan dirinya sebagai manusia bodoh
Diam namun terbakar, meletakkan diri dalam penderitaan abadi
Babakan, Bantarjaya, Bogor
240210
Manusia punya akal, binatang hanya mengandalkan naluri
Apa bedanya kesalahan dengan kebenaran?
Untuk manusia yang pendek akal akan sulit menelisik
Karena kesalahan bisa disulap menjadi kebenaran
Dan kebenaran direkayasa jadi kesalahan
Lalu apa bedanya binatang dengan manusia bodoh?
Manusia bodoh tetap mengenakan pakaian penutup pikiran
Sedangkan binatang telanjang bulat apa adanya
Ketika kebohongan disebarkan ke segala penjuru
Sambil berurai airmata menegaskan ketidakberdayaan semu
Manusia-manusia bodoh pada terharu dan ikut menangis pilu
Mereka sepenuhnya merasa berpihak pada kebenaran
Serentak mereka menghujat dan meledakkan kebencian
Kebodohan bagai kobaran api membakar ludas isi otaknya
Akhirnya Iblis melenggang masuk pada bara emosi berlebihan
Mereka lupa kebenaran pada dasarnya sunyi, dingin dan sendiri
Sedangkan kesalahan terukur
Dari keberpihakkan manusia pada subyektifitas
Cinta adalah pemahaman
Jangan katakan cinta kalau kamu manusia bodoh
Cinta adalah air menyejukkan
Jangan bilang pecinta kalau makananmu api
Cinta adalah taqwa
Jangan sebut asma Tuhan kalau hanya paham kebencian
Manusia disebut bodoh ketika menjadikan dirinya batu
Percaya pada kebohongan dan memberhalakannya
Berhala yang disembah dan diyakini kebenarannya
Manusia pintar mampu menjadikannya sebagai udara
Terus mencari dan mengisi kebenaran
Pada setiap ruang dan lubang, pada tanjakan dan turunan
Udara yang bisa menghembuskan kesejukan dan kedamaian
Udara yang tidak menyakitkan
Tak bosan-bosannya menyembuhkan dan menghidupkan
Udara yang oleh Tuhan langsung diturunkan dari langit
Sungguh sial yang membatukan dirinya sebagai manusia bodoh
Diam namun terbakar, meletakkan diri dalam penderitaan abadi
Babakan, Bantarjaya, Bogor
240210
Langganan:
Postingan (Atom)
